Melahirkan: Harapan vs Kenyataan Bag. 1

Harapan

Ikut senam hamil: sudah. Iseng-iseng yoga hamil sendiri: sudah. Baca-baca buku melahirkan dengan bahagia: sudah. Senam nafas: sudah. Ikhlasin saja: sudah. Banyak jalan: sudah.

Cus lah. Ngelahirin lancar ini mah. Apalagi Pancit akhirnya pulang dan drama LDR pun kelaaar. Bisa menghadapi kontraksi dan melahirkan bersama Pancit dengan tenang.

Baca juga: LDR Setelah Nikah

Kalau perlu lahiran normal yang pake obat bius itu loh! Jadi setelah anaknya lahir, saya bisa ketawa-ketawa dan kami bisa foto-foto cantik sambil mesra-mesraan sama anak piyik.

Kemudian pulang dari rumah sakit dan menjalani hidup bahagia selamanya.

Kenyataan

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!

Oke, sebelum sampai ke bagian itu, mari kita mundur sejenak dan berkisah dari awal.

Satu hari sebelum melahirkan saya mulai merasakan sakit-sakit di perut. Ga sakit-sakit amat, tapi ya berasa aja. Tapi hari itu kami sudah berencana untuk nonton Jurassic World di bioskop. Iya, JURASSIC WORLD yang itu. Yang orang dikejar-kejar dan mengejar dinosaurus itu. Yang banyak teriak-teriak.

Maka duduklah dengan tenang saya di bioskop. Ga tenang-tenang amat juga sih, goyang kiri kanan dikit, karena sakit yang ga sakit-sakit amat tapi berasa itu.

Keluar dari bioskop, saya dapat kabar kalau teman yang hamilnya hampir barengan dah melahirkan. Oke, saya pikir, mungkin saya juga dalam waktu dekat. Toh perkiraan juga seminggu lagi.

Setelah itu, Pancit dan saya bertemu dengan seorang kawan, sebut saja namanya Sumarsih. Dan kami pun makan makanan Korea di Mujigae. Samapai detik ini saya belum pernah makan di Mujigae lagi. Takut melahirkan lagi.

Si Sumarsih pun bertemu kami dengan sumringah. Sumringah ngeledekin saya yang berperut besar. Saat itu dia masih tidak percaya saya bisa hamil.

Sepanjang makan saya mulai ga konsen. Duduk tambah goyang-goyang. Tangan Pancit pun mulai jadi korban remasan. Sakit banget? Nggak. Biar mirip kayak cerita orang-orang hampir melahirkan saja. Remas-remas tangan suami. Kasian nanti Pancit ga bisa berbagi rasanya tangan diremas istri saat hampir melahirkan.

Selesai makan, saya dijemput oleh mama dan adik. Di mobil, saya langsung minta pergi ke klinik. Ngecek saja karena sakitnya mulai berasa.

Sampailah kami di klinik.

Dicek kontraksi, ternyata beneran ada. Kemudian diperiksa dalam (bahasa kerennya: VT). Ini GA NYAMAN BANGET! Sekali lagi, RISIH. RIWEUH. SAKIT! Ternyata sudah bukaan 2. Disuruh pilih-pilih kamar dan masuk kamar, sambil nunggu dokter yang antriannya masih panjang.

Akhirnya masuk ke ruangan dokter. Dicek lagi. Dicek ini artinya periksa dalam lagi. Putusin aja tuh urat malu, diobral-obral ke bidan sama dokter. Hhh.

Seandainya ada orang yang bisa nemuin alat untuk mendeteksi pembukaan tanpa VT, saya akan dukung dia sepenuh hati untuk memenangi NOBEL PERDAMAIAN. Karena sungguh setiap di VT itu rasanya pengen ngerudal dokternya aja.

Kata dokternya, benar ini pembukaan dua. Ya sudah, menginaplah saya di klinik itu.

“Enak ya kak, ga perlu bawa-bawa kakak naik mobil pas lagi sakit banget,” kata adik saya.

“Yes, rencana melahirkan di tempat yang lebih terjangkau bisa tercapai,” pikir saya.

“Eits tunggu dulu!” kata kenyataan.

Baca juga: Perkiraan Biaya Melahirkan di Depok

Karena belum bawa perlengkapan menginap, mama dan adik saya pun pulang. Akan segera balik lagi katanya. Nyatanya baru datang setelah sahur (waktu itu bulan puasa). Sepanjang malam saya menahan sakit kontraksi yang datang dan pergi, oh begitu saja, itu, dengan baju pergi yang baunya seperti habis dikejar-kejar dinosaurus yang makan kimchi.

Pagi pun tiba. Bidan datang dan melakukan pengecekan lagi.

“Wah masih bukaan dua bu. Pulang saja dulu ya.”

“APAAA??!” Jegar-jeger. Petir menyambar. Ini sakit begini masih bukaan dua, dan? Anda serius? Jangan main-main, dan!

Karena saya ga mungkin mem-VT diri saya sendiri, maka saya terpaksa menerima sarannya dan pulang.

Di perjalanan pulang, saya menyesal mama tidak pernah membelikan kamus sumpah serapah untuk saya. Tiba-tiba jalanan mulus serasa off-road. Jalanan yang emang rusak, entahlah saya harus mendeskripsikan seperti apa. SAKIT PAK! Pancit gimana? Tenang, stok cerita tangan diremes-remesnya masih aman. Karena sepanjang perjalanan pulang saya memastikan tangannya selalu saya remes tanpa henti.

Sesampainya di rumah saya mandi. Lalu kontraksinya tambah sakit. Tapi ngantuk. Akhirnya saya tidur bangun tidur bangun. Ketiduran sebentar, lalu bangun setiap kontraksi.

Akhirnya install app untuk ngitung jeda kontraksi. Tapi terus bingung, ini mulainya kapan, berakhirnya kapan. Karena begitu saya install app nya, tiba-tiba jadi sakit mulu perutnya. Ini sudah level SAKIIIITTTT! Saya ga tahu deh Pancit mikir apa waktu itu ngelihat saya kayak gitu. Mungkin saya harus nyuruh dia nulis pengalaman dia saat itu.

Sekitar jam 2 siang saya minta Pancit telepon klinik. Ini sakitnya sudah ga tertahankan. Lalu dijawab, “sudah ada darah belum Pak?”

“Belum dan.”

“Ya sudah, di rumah saja dulu Pak.”

Lalu Pancit bilang ke saya, kalau belum ada darah, di rumah saja dulu.

“Ga bisa Panciiit. Tolonglah saya. Ini sakitnya sudah sampai jiwa. Sedikit lagi saya gila.”

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.

Bersambung ke Bagian 2 ya…

12 Replies to “Melahirkan: Harapan vs Kenyataan Bag. 1”

  1. Ayo mak ditunggu kepanjutannya.. Bukaan dua udah segitunya, saya penasaran menuju bukaan lengkap yang sakitnya maha dahsyat

    1. Siiipp. Episode ke-2 sudah tayang nih mba! 😀

  2. Penasaran bagiaan 2 nya nihh mbaak 😀 wkww ditunggu yaa. .

    deg-degan baca ceritanya, sakitnya dahsyat banget ya mbak :”

    1. Saya mah campuran lebay dan ga tahanan sama sakit. Hehe.. Kata orang terbayar kok dengan cantiknya wajah bayi <3

  3. Mau baca yang kedua.. 🙂
    Bentar lagi saya juga mau lahiran, semoga bisa lancar-lancar aja, Aamiin.. 🙂

    1. Aamiin.. Semoga lancar-lancar ya mba.. Jangan khawatir abis baca tulisan saya ya.. Banyak banget yang berhasil melahirkan dengan cantik bahagia. Da saya mah apa atuh T.T

  4. Selamat sampe lahiran ya mbak 🙂 seru banget persiapannya.

    1. Proses lahirannya juga ga kalah seru mba.. Haha

  5. ceritanya seruu mbk, sayang saya belum bisa menuliskan pengalaman waktu hamil dn melahirkan

    1. Ayo mbak segera dituiskan 😀

  6. Kunjungan perdana, salam kenal mbak 🙂
    mampir ya di blog baruku, terimakasih 🙂

Leave a Reply