Life in Japan

Di timeline twitter saya lagi banyak komentar soal keuntungan hidup di Jepang dan berapa salary yang layak untuk hidup nyaman di Jepang.

tweet yang memulai diskusi itu

Setelah hidup di Jepang selama kurang lebih satu setengah tahun, gimana sih rasanya hidup di luar negeri, khususnya di Jepang, menurut saya?

Sebelum lanjut ke gimananya, saya kasih konteks sedikit ya:

  • berkeluarga dengan dua anak
  • single income
  • sandwich gen
  • sudah pernah tinggal di luar negeri sebagai jomblo sebelumnya

Ternyata ya, tinggal di luar negeri dengan keluarga dan jomblo itu BEDA JAUH!! HAHAHAHAHAHA!! Tapi, sebelum saya curhat ke sana, mari kita bicara hal yang lain dulu.

Bagi yang penasaran, berapa sih gaji yang layak untuk hidup nyaman di Tokyo, silakan cek ini. Menurut saya, angka yang tertera di sana lumayan sesuai dengan kehidupan di sini sekarang. Jadi di sini saya sama sekali tidak membahas angka ya, silakan dihitung sendiri keperluannya berapa, berapa yang harus dikirim ke Indonesia, berapa yang ingin ditabung, dan berapa biaya pulang kampung ke Indonesia.

Oke, langsung saja saya bahas yang menurut saya sering kelewatan.

Liburan ke Indonesia

Bagi yang single, mungkin ini nggak terlalu masalah, karena tinggal cari tiket filter harga geser kiri. Murah puwooll. Ga peduli transitnya berapa lama. Kalau sudah ada anak, mungkin agak sulit untuk geser kiri, selain karena waktu transit yang harus diukur demi kewarasan bersama, tapi kita juga harus aware dengan bagasi yang mau dibawa.

Nggak hanya itu, bagi kaum kontraktor seperti saya, pulang ke Indonesia berarti menyewa tempat tinggal, karena agak sulit menumpang di rumah orang tua/saudara kalau pulangnya rame-rame ya 😁 Silakan diatur kapan pulang ke Indonesia, kapan ajak orang tua ke Jepang, kapan ya sudah lah ikhlasin aja bertahun-tahun nggak berjumpa langsung.

Yang pasti kalau tidak disiapkan baik-baik, urusan liburan ke Indonesia ini bisa membuat rekening kita jadi SPBU, “mulai dari 0 ya kak!”

Polusi Udara, Suara, dan Permasalahan Keluarga

Pengelompokan yang agak aneh. Hahaha.

Salah satu alasan saya ingin mencari pekerjaan di luar negeri adalah karena saya mulai lelah menghadapi polusi udara yang tak henti-henti. Ingin menghirup udara segar, tapi pilihan WFA semakin sempit di Indonesia.

Dibandingkan Jakarta, saya lebih sering melihat langit biru di Tokyo. Di Tokyo setiap ke luar rasanya saya mau buka masker saja, apalagi kalau sudah masuk musim gugur dan musim dingin, karena nggak sumpek. Tenang rasanya saat udara dingin yang segar masuk mengisi paru-paru. Bahkan rasanya bisa saya bayangkan oksigen yang terbawa dalam darah itu mengalir sampai ke otak.

Yakin paragraf di atas bakal langsung dikritisi Pancit karena saya tidak banyak ke luar rumah, tapi tidak mengubah esensi dari paragraf di atas.

Begitu pun dengan suara. Saat pertama kali kami sampai di Jepang dan menikmati pemandangan sekitar dari balkon di lantai 13. Hening. Cuma terdengar suara gagak. Langsung paham kenapa di Doraemon kalau garing yang kedengeran itu suara gagak bukan suara jangkrik ya. Haha.

Setelah pindah rumah, seringnya juga hanya hening. Paling banyak itu mendengar suara sirine ambulans. Sampai dapat email dari pemerintah kota juga, katanya ambulans di sini sibuk banget, makanya datangnya suka agak lama. Kalau nggak darurat banget tolong datang sendiri aja ke rumah sakit.

Dua anak batak yang saya besarkan ini tentu saja tidak membantu dengan keheningan ya. Alhamdulillah sudah dua kali dapat surat teguran karena anak-anak yang berisik di rumah. Hhhhhhhh.. Mamak hanya bisa mengelus dada sambil teriak nyuruh anak-anak diam #eh.

Tapi saya rasa dua hal itu nggak akan cukup untuk mengurangi stress tanpa kebebasan dari polusi permasalahan keluarga (besar). HAHAHAHAHA.

Kalau di Indonesia, pasti sering banget “digerecokin” orang tua/saudara, “itu si anu dan ini sering begitu dan begini”. Nggak cukup lewat WA atau telepon, lagi santai di rumah, tiba-tiba ada yang ketok pintu untuk ngelanjutin cerita 💃

Tidak salah. Tapi berhadapan dengan permasalahan yang nggak-cuma-sekali-dua-kali-setahun-dua-tahun tanpa solusi itu draining sekali. Tinggal di luar negeri membuat semua itu terasa jauh. Mereka yang mau cerita juga sadar kalau kita jauh, “ah, bisa apa dia, sudah terlalu jauh dari jangkauan.”

Sehingga tingkat stress menurun 🤣

Daun Berguguran dan Salju

Salju ini salah satu penggerak saya mencari pekerjaan di negara empat musim. Waktu itu saya berdoa semoga bisa mendapatkan pekerjaan di negara empat musim. Sebenarnya menyasarnya ke Eropa, tapi malah nyasar ke Jepang.

Saya juga pengen lihat anak saya yang paling kecil pakai jaket-jaket tebal. Lucu kan ya, anak kecil, pendek, dibuntel tebel-tebel.

Waktu tinggal di Turki dulu, saya memang suka sekali dengan musim gugur dan musim dingin. Seperti istirahat sejenak dari gerahnya problematika dunia.

Belum lagi bagusnya kalau di foto di tengah daun-daun berguguran dan putihnya salju yang seputih hati ini setelah lebaran.

Musim semi dan musim panas di Jepang pun tak kalah indah fotonya. Cuma ke luar rumah, foto di samping gorong-gorong saja bisa menuai banyak like di social media. Kesempatan untuk meraup networking jadi lebih besar kalau memang itu yang diniatkan.

Sekolah Anak beserta Endebra Endebrenya

Sekolah di usia pre-school dan TK tidak sepenuhnya gratis, tapi biaya yang kita bayarkan biasanya tidak banyak, karena sudah disubsidi oleh pemerintah kota – besaran subsidinya pun berbeda-beda tergantung kota tempat kita tinggal.

Sementara itu untuk SD dan SMP, kita hanya perlu membayar makan siang dan beberapa perlengkapan sekolah.

SMA juga hanya perlu membayar makan siang dan beberapa perlengkapan sekolah di beberapa kota. Sedangkan di kota lain, kita perlu membayar biaya SMA.

Ada kabar menarik untuk kuliah bagi kalian yang memiliki tiga anak atau lebih. Di Tokyo, jika memiliki tiga anak atau lebih, kabarnya, kuliah akan digratiskan! Saya belum tahu persis kapan akan diresmikan, tapi pantau saja terus beritanya!

Oke, sekolah formal sudah aman biaya, minimal sampai SMP. Bagaimana dengan keperluan les-les?

Dengan menyekolahkan anak di sekolah Jepang, berarti anak sudah bisa berbahasa Jepang sehari-hari. Ini penting, karena ini juga bisa mengurangi kebutuhan biaya les hingga lebih dari setengahnya!

Pendapat saya setelah ini bisa jadi karena saya belum bisa Bahasa Jepang, jadi keahlian saya ngubek-ngubek google masih terbatas, tapi, sejauh ini kalau mau les setiap hari, beragam jenis dari yang normal sampai yang aneh, dengan durasi yang lama, saya yakin harga di Indonesia akan jauh lebih terjangkau. Jadi silakan disesuaikan dengan goal keluarga kalian ya.

O iya, kefasihan orang tua berbahasa Jepang menurut pengalaman saya berpengaruh untuk kesuksesan mendaftarkan anak di sekolah/tempat les. Waktu daftarin anak yang paling kecil untuk TK, itu beberapa kali ditolak karena orang tuanya tidak bisa berbahasa Jepang. Baru ada TK yang open setelah kami minta tolong kepada orang di kantor ward (pemerintahan kota). Itu pun masih terus dicecar, “tapi nanti guru kami akan kesulitan komunikasi dengan kalian.”

Waktu mendaftarkan anak pertama ke SD belakang rumah juga saya mendapatkan sentimen serupa, “kenapa nggak daftar sekolah internasional saja?” Tapi, karena di Jepang anak usia SD wajib sekolah jadi anak saya bisa masuk tanpa hambatan. Sekarang anak ini sudah sering membuat haru gurunya karena progresnya berbahasa Jepang di sekolah.

Anak saya juga pernah ditolak mendaftar les piano karena saya nggak bisa Bahasa Jepang (padahal anaknya sudah lancar percakapan sehari-hari), tapi mereka bersikeras guardiannya yang harus bisa Bahasa Jepang 😭

Tapi ini pengalaman saya, mungkin sedang sial saja. Tapi tetap sedih kalau diingat 😭

Asuransi Kesehatan

Sejujurnya saya lebih suka asuransi kesehatan dari kantor dan BPJS di Indonesia. Kenapa? Karena semuanya langsung ditanggung. Kita nyaris nggak perlu keluar apa-apa.

Saya kurang paham dengan mekanismenya, tapi, berbeda dengan Indonesia yang setiap kantornya hampir pasti punya asuransi swasta lain selain BPJS, di Jepang asuransinya ngikut mekanisme yang sama dengan asuransi kesehatan nasional, meskipun perusahaan asuransinya terlihat berbeda-beda.

Pada dasarnya, asuransi kesehatan nasional di Jepang menanggung 70% dari biaya yang diperlukan. Tapi, jika melewati batas atas, kita hanya perlu membayar sampai batas atasnya saja. Bisa google high-cost medical care Japan kalau ingin tahu lebih lanjut tentang ini.

Jenis asuransi seperti ini agak kurang cocok untuk yang hidupnya sering ngepas dari gaji ke gaji, menurut saya. Jadi, kalau hidup di Jepang, harus banget punya persiapan dana untuk sakit.

Untuk anak-anak, 30% biaya yang tidak ditanggung itu biasanya disubsidi oleh pemerintah kota. Makanya sering dibilang biaya pengobatan anak hingga usia 18 tahun di Jepang itu gratis.

Kekurangan lainnya untuk saya yang belum terlalu akrab dengan Bahasa Jepang itu adalah mencari dokter yang bisa Bahasa Inggris tapi tetap dicover asuransi nasional, karena kalau tidak dicover biayanya lumayan banget.

Disclaimer: saya belum membandingkan penyakit yang dicover atau tidak di Indonesia vs Jepang. Jadi tidak bisa membandingkan. Mungkin another point to Japan, kalau tidak salah, pernah dengar cerita ada yang sakit di Indonesia, dan biayanya bisa direimburse ke asuransi nasional Jepang. Setahu saya BPJS atau asuransi kantor di Indonesia belum bisa seperti ini.

Proses Pencarian Rumah Sewa

Berbeda dengan di Indonesia, pindah rumah di Jepang, apalagi kalau tidak bisa Bahasa Jepang biasanya agak sulit. Setiap pindah rumah baru, kita harus membayarkan ulang biaya agen (sekitar 1 bulan sewa), key money (1-2 bulan sewa – key money ini sejarahnya kocak, jadi kita kasih uang ini sebagai tanda terima kasih karena yang punya rumah sudah mau nyewain rumahnya), dan deposit (1-2 bulan sewa). Karena harga sewa yang relatif lebih mahal daripada di Indonesia, maka total biaya saat pindahan ini lumayan banget. O iya, meskipun nggak pindah, key money ini akan dibayarkan lagi setiap dua tahun sekali (atau tergantung kontrak). Saat key money dibayarkan kembali, besaran uang sewa juga akan ditinjau ulang.

Opsi untuk menggunakan share house juga hilang kalau sudah berkeluarga, sehingga pilihan yang harga mentok kiri semakin sempit.

Selain itu, saat pindah rumah ada beberapa proses yang juga harus kita lakukan. Minimal, kita harus memindahkan sekolah anak (bisa stay di sekolah yang lama dengan syarat dan ketentuan yang berlaku), memindahkan pembayaran pajak daerah, dan memindahkan keterangan kepemilikan alamat di kantor pos.

Kesepian

Untuk keluarga single income seperti kami, kualitas kehidupan sosial pasangan bisa jadi menurun drastis. Apalagi jika ada tanggung jawab untuk menyiapkan segala sesuatu sendiri di rumah. Kebetulan kami muslim, jadi minimal banget, harus menyiapkan makanan untuk keluarga, karena pilihan untuk selalu membeli makanan di luar itu terbatas segala macam. Waktu yang tersita untuk mengurus rumah dan tetap siaga hadir dalam kehidupan anak itu tidak sedikit. Pelarian (me time) yang biasanya bisa didapat dengan satu dua jam di Indonesia jadi lebih sulit didapatkan di Jepang.

Rasanya saya tidak perlu berpanjang-panjang untuk menjelaskan ini, tapi kalau pasangan kalian adalah orang yang berjiwa sosial banget, yang inginnya selalu bisa bermanfaat demi kehidupan orang banyak. Yaaaa siap-siap saja menghadapi problema lucu-lucu yang akan muncul di kemudian hari.

Hmmmm… apalagi yaa.. sepertinya baru ini yang kepikiran sekarang. Mungkin lain kali akan saya tambahkan.

Sayonara!

One Reply to “Life in Japan”

  1. nice insight kak, sering2 share pengalamannya dong kak selama tinggal di jepang

Leave a Reply