Coba Pikir Dulu…

Sebenarnya sudah mau nulis sejak datang ke open house sekolah anak, akhirnya baru beneran tergerak setelah melihat twit ini. Meskipun ga tahu ya serupa atau tidak dengan yang dimaksud oleh pencuitnya.

Di sekolah Abra ada open house day, kalau tidak salah ingat tiga bulanan sekali. Di hari itu orang tua bisa menyaksikan proses belajar mengajar, kadang hanya satu jam pelajaran, kadang dua jam. Berdiri ngeliatin bocah-bocah belajar dengan bahasa yang saya ga ngerti itu membosankan yaaa. Hhhh..

Sabtu itu saya datang di pelajaran Bahasa Jepang dan Matematika. Jangan tanya mereka belajar apa di Bahasa Jepang. Yang Matematika sebenarnya saya juga ga ngerti apa yang mereka bicarakan, tapi proses selama kelas itu menarik untuk saya.

Kelas dibuka dengan guru yang menggantung dua kertas besar di papan tulis dengan magnet. Jangan tanya kenapa harus pakai kertas lagi di atas papan tulis. Saya kurang mengerti obsesi orang sini dengan kertas. Lalu guru pun mulai menuliskan sebuah soal cerita.

Kurang lebih begini soalnya.

A memiliki uang 47 yen. A membeli coklat seharga 18 yen. Berapakah uang kembalian yang akan diterima oleh A?

Tiga kalimat saja soal ceritanya.

Lalu gurunya pun mulai menggaris bawahi kalimat pertama. Dia pun melemparkan sebuah pertanyaan. (Lagi-lagi, jangan tanya saya dia bertanya apa, saya belum mengerti Bahasa Jepang). Beberapa murid pun mengangkat tangan untuk menjawab dan guru pun menunjuk satu orang untuk berdiri dan menjawab.

Setiap satu kalimat, guru melempar dua tiga pertanyaan. Setelah selesai semua kalimat, dia sepertinya menanyakan kembali maksud dari keseluruhan soal. LIMA BELAS MENIT dari empat puluh lima menit jam pelajaran dihabiskan untuk mengerti soalnya. Sama sekali belum menyentuh jawabannya. Bahkan caranya. Hanya untuk mengerti soalnya.

Kemudian guru pun mulai menulis 47-18.

“Akhirnya!”, pikir saya.

Tapi ternyata guru tidak langsung memberikan cara untuk menyelesaikan pertanyaan itu.

Dia melempar pertanyaan lagi ke murid-muridnya. Beberapa pertanyaan. Motivasi saya untuk belajar Bahasa Jepang sedikit meningkat demi untuk mengerti percakapan ini.

Saya kira dia sedang menanyakan cara atau jawaban dari 47-18. Yang dia tulis berikutnya mengejutkan saya! (wow clickbait!)

50 – 20 =

WHAT?! WHAAAAAAT?!! WHAAAAAAT HAPPEEEN???!!!

Ternyata murid-muridnya nggak langsung diajak susah dan menggali jawaban yang benar. Tapi diajak untuk menebak kira-kira jawabannya dekat dengan berapa ya.

My mind was blown.

Kenapa saya heboh amat, karena saat pandemi, beberapa keponakan sempat menginap di rumah dan kami “belajar” bareng karena itu hari sekolah. Mereka sekolah di SD negeri dan begitu saya kasih soal matematika….. Hhhh, rasanya ingin menangis. Mereka ga tau seberapa jauh mereka salah karena mereka ga bisa “menebak” jawabannya kira-kira ada di kisaran berapa ya. Ajakan saya untuk menebak pun mentah karena mereka merasa itu membuat soalnya jadi lebih sulit.

Saya juga ingat waktu itu sempat ramai di Facebook ada orang tua yang membagikan cara pengurangan yang menurut dia aneh dan malah bikin susah, padahal cara seperti itu saya pakai untuk mempermudah saya menghitung, terutama di angka-angka besar. Cara yang bikin susah itu padahal yang bisa menjelaskan, darimana “satu” yang selama ini kita pinjam saat kurang-kurangan. Dan tentu saja bisa bikin lebih cepat menghitung kembalian!

Back to the open house

50-20 itu tidak datang semena-mena dari guru, by the way. Setelah beberapa pertanyaan, baru dituliskan 50, kemudian pertanyaan lagi, dan baru datang angka 20. Semua orang jadi tahu kalau hasil hitunganmu jauh dari 30, sudah pasti ngaco lah ya. Sering kali di kehidupan juga kita tidak diminta jawaban pasti, hanya perkiraan saja.

Setelah melalui beberapa pertanyaan lagi, anak-anak akhirnya diminta mengerjakan sendiri. Diberi waktu tujuh menit (ada timernya di papan tulis). Setelah tujuh menit, beberapa anak masih belum selesai, hingga ditambahkan lagi tiga menit.

Saya jinjit-jinjit memperhatikan buku anak-anak, termasuk anak saya sendiri yang hari itu kebetulan duduk di belakang, jadi lebih mudah untuk mengamatinya.

Yang ditulis anak-anak di bukunya berbeda-beda. Ada yang semacam anak saya langsung menulis jawaban. Ada juga yang menggambar lingkaran-lingkaran semacam uang untuk menghitung. Ada yang memisahkan 47 = 30 + 17, baru kemudian dikurangi 10 + 8. Ada yang mengeluarkan alat bantu matematika dan menggunakan semacam biji-bijian untuk menghitung. Menarik. Tidak ada cara yang saklek harus dipakai.

Selama waktu itu guru juga berkeliling, melihat, kemudian berkata “naruhodooooo” (saya mengertiiii). Tidak mengomentari. Tidak membenarkan. Tidak menyalahkan. Hanya mendengarkan.

Setelah waktu habis guru tidak langsung menjelaskan caranya di depan. Murid-murid diberikan waktu untuk berdiskusi dengan teman di samping kursinya, apa jawaban mereka, bagaimana cara mendapatkan jawabannya. Ada satu kelompok dengan tiga anak. Dua diantaranya menjawab 29, sementara salah satunya menjawab 31. Saya memang tidak mengerti banget apa yang mereka bicarakan, tapi saat diskusi mereka ga langsung menghujat, “jawaban kamu salah!”. Mereka melakukan apa yang gurunya lakukan, “oooo.. naruhodo”. Menarik.

Sisa prosesnya kita tahu lah ya, banyak pertanyaan dari guru ke murid, hingga beberapa murid diminta ke depan untuk mengerjakan dengan cara yang berbeda.

Setelah tahu jawaban yang benar, dua dari tiga anak tadi langsung menghalangi teman yang salah untuk menghapus jawaban dia di bukunya. Hahaha. Selama diskusi boleh akur, tapi tak kan kubiarkan kau menang! Hahaha.

Anak saya gimana. Bosan. Corat coret ga jelas di bukunya. Haha.

Mungkin ini bukan kali pertama gurunya menjelaskan seperti ini. Dan kebetulan dia cukup jalan logikanya. Beberapa hari sebelum ini, dia minta dikasih perkalian. Saya iseng memberikan perkalian belasan. Padahal dia belum pernah kami ajari perkalian. Belum pernah menghapal tabel perkalian juga. Tapi dia tahu cara memecah perkalian. Anggap saja 13 x 15. Dia menghitung dengan cara (13 x 10) + (13 x 5). Tidak cepat, tetap butuh waktu untuk menunggu jawabannya, tapi tetap dijawab. Waktu itu saya heran, dari mana dia bisa berpikir seperti itu. Tapi setelah masuk kelasnya, rasa heran saya berkurang sih. Kalau logika dasarnya sudah benar, akan lebih mudah untuk mengembangkannya lagi ke hal-hal lain.

Tapi yaaaa kalau diulang-ulang, lumayan yaaa bosennya. Dalam empat puluh lima menit, hanya satu soal yang selesai dibahas. Semoga anak saya diberi kesabaran dan kebijaksanaan.

Leave a Reply