Jangan Asal Ngasih Label

Jangan Asal Ngasih Label

Kita sering dengar kalau sebaiknya kita jangan sampai kelepasan ngedoain yang jelek ke anak-anak, karena bisa jadi dikabulkan, atau bahkan anak merasa “dilabelin” begitu.

Misalnya kayak ngomong, “ah dia mah emang anaknya nakal”, jadi anaknya merasa, “ya sudahlah, menurut orang tua saya mah emang anak nakal”.

Tapi, setelah melalui perenungan sambil mandi. Haha..

Label yang jelek, sudah hampir pasti yaa membawa sesuatu yang buruk, tapi, label-label yang menurut kita baik, bisa jadi juga menimbulkan masalah tersendiri.

Misalnya, “iya, dia mah anaknya pintar matematika”. Karena terbiasa mendengar seperti itu, sekarang setiap melihat matematika, anaknya jadi mikir, “aduh saya harus pintar, kata mama, saya pintar matematika”.

Atau misalnya, “kamu kan anak perempuan ibu satu-satunya, tempat ibu berkeluh kesah.” Alhasil setiap ibunya menelpon, yang ada di pikiran anaknya, “aduh, harus dengerin keluh kesah lagi, ku tak siap.”

Seperti anak kedua saya, sering sekali saya labelin, “yaa dia mah emang banyak omong, gampang banget juga sih main sama siapa saja.” Biasanya nggak lama dari situ, anaknya “mogok”, langsung jadi anak paling introvert sedunia dan nggak suka sharing. Hahahaha.

Ini contoh yang salah sih.. Anak saya terlalu free-will untuk dijadikan contoh.

Susah banget jadi orang tua.

Terus yang tepat itu label seperti apa?

Ya ndak tahu, kok tanya saya. Coba tanya psikolog masing-masing.

Mungkin memang sebaiknya tidak memberi label apapun kepada siapapun. Nggak cuma anak.

Begitu pun anak ke orang tua.. Tolong ya bocah-bocah, saya bukannya suka kerja atau laptop, tapi memang kebetulan lagi butuh kerja terus saja. Kalau mau ngasih hadiah, nggak usah selalu kepikiran ngasih saya laptop. Saya masih pengen barang-barang lain, keyboard misalnya.