Dimaafkan, tapi Tidak Dilupakan

Dimaafkan, tapi Tidak Dilupakan

Kalau tidak melupakan, apakah bisa dikatakan kita telah sepenuhnya memaafkan?

Di tengah suasana lebaran seperti ini, kata maaf bertebaran di mana-mana, entah diucapkan dengan tulus, atau sekedar menyalin kata-kata dari grup sebelah.

Tadi saya lagi mandi lalu tiba-tiba kepikiran peristiwa maaf-maafan ini - saking kepikirannya sampai mecahin gelas tempat odol :cry:

Hampir setiap saya bertemu dengan mantan adik kelas atau kawan lama, selalu ada saja celetukan yang bunyinya kurang lebih seperti ini, "Aku ingat banget waktu itu kamu bilang [kalimat-kalimat bijak nan alay yang saya sudah lupakan]."

Kalau kalimat-kalimat ngasal yang dengan begitu mudahnya saya lupakan saja ternyata membekas di hati mereka, apalagi kalimat-kalimat yang menyakiti hati?

Mungkin maaf sudah terucap dan maaf sudah diterima, tapi hubungan antar si pemberi dan penerima maaf itu rasanya nggak akan pernah sama lagi.

Setiap si A melihat si B, A akan selalu mengingat konflik yang pernah terjadi di antara mereka.

Saat si Z bertemu si Y, mungkin dia akan terusik karena perbuatan si Y sempat merusak hari indahnya.

Ketika si L bertemu si N, si L akan lebih memilih diam karena si N pernah menyebarkan ucapannya yang seharusnya dirahasiakan.

 

Atau mungkin saya hanya lebay dan kurang ikhlas.

 

Tapi, apakah benar semuanya dimulai dari nol setelah kata maaf terucap?

Apakah memaafkan berarti harus melupakan?